Berandai - 02.
Aku menoleh ke arah gadis dengan rambut yang diikat tinggi tengah fokus memainkan pulpennya sambil memandangi gedung-gedung tinggi sebelah sekolah lewat jendela kelas.
"Maksudnya?" balasku bingung.
Gadis itu, Kaila namanya, temanku dari SD yang sialnya juga masuk SMP yang sama, mendengus lalu bergumam sendiri.
"Bener juga, buat apa ya gua nanya ke elo."
Aku dengar itu. "Kalau suka sama orang yang tinggal nyatain perasaan aja, bukan?" tanyaku lagi.
Kaila kini tertawa.
"Nei, nggak segampang itu."
Benar juga. Tidak segampang itu. Aku mengangguk setuju dengan perkataan Kaila, lalu mendongakkan kepala memandangi hamparan langit biru ibukota yang sepi tanpa awan.
"Sepi, ya," gumamku pelan.
Kaila mengangguk. "Kayak hati," sambungnya.
"Enggak," sanggahku melirik sesaat ke arah Kaila. Aku lalu beranjak dari duduk, tiba-tiba ingin memakan sesuatu. "Ah udah, anak SMP kok omongannya kayak orang dewasa aja," komentarku lalu berbalik menuju kantin dan meninggalkan Kaila sendiri yang sepertinya asik dengan pulpen ditangannya itu.
Sepanjang koridor, pikiranku sama sekali tak sepi seperti langit biru itu, pikiranku ramai sekali seperti sebuah pasar malam yang biasa hadir di malam minggu.
Pertanyaan Kaila tadi terus terputar dikepala.
"Kalau suka sama orang itu harus bagaimana?"
"Bagaimana?" tanyaku bergumam sendiri. "Bukannya enggak gimana-gimana?"
Aku menggeleng pelan tak setuju dengan ucapanku.
"Harus berjuang?" Mataku membelalak. Jawaban yang tepat!
Jadi teringat tentang tekatku semalam yang bertekat akan berani setelah bertemu dengan Kak Dimas.
Aku berhenti melangkah. Terdiam di tengah koridor. Tiba-tiba satu hal terlintas dikepalaku.
Berani yang bagaimana? Berani menyatakan perasaan? Berani berjuang? Berani berbicara? Atau berani yang bagaimana?
Aku menghela napas. Satu beban pikiranku bertambah, lebih susah dari aljabar yang sedang kupelajari.
Berani yang bagaimana, ya?
. . .
Les kali ini aku tidak sendiri, aku ditemani oleh dua orang temanku yaitu Kaila dan Dania. Dania ini teman TK-ku yang kebetulan dipertemukan kembali ditempat les yang sama.
Dan kali ini juga, tempat les kecil ini lebih ramai karena semua hadir tepat waktu —tak seperti kemarin banyak yang terlambat—. Seperti biasa, aku duduk dipojok ruangan, di sebelah kiri ku ada Kaila lalu di sebelah Kaila ada Dania. Di meja seberang kami bertiga diisi oleh murid-murid kelas 9, Kak Arka, Kak Billa, dan Kak Dimas yang duduk dipojok dan tentu saja berhadapan denganku.
Di tengah meja ada Kak Sintia yang mengajar matematika, lalu di depan Kak Sintia terdapat meja lagi yang diisi oleh murid kelas 8, Kak Ishar dan Kak Indah.
Les kali ini berlangsung tenang dan damai, walau Kak Arka dan Kak Billa bercandanya begitu berisik karena mereka satu SD bareng —walaupun saat SMP beda sekolah— begitu pula denganku dan Kaila yang menjadi adik kelas mereka saat SD.
Lalu ditambah oleh ketawa ngakak Kak Ishar yang besarnya bukan main. Ahh ya aku kenal Kak Ishar selain satu les yang sama, kami pernah ngaji bareng saat SD dulu. Aku masih ingat Kak Ishar, tapi sepertinya Kak Ishar tak menginggatku. Yasudah lah.
Dan Kak Indah, kakak kelasku di SMP itu hanya menambahi beberapa lelucon saja.
Hampir semua yang ada disini aku kenal semua, kecuali Kak Dimas.
Kak Dimas ini benar-benar sosok baru yang kulihat, tenang dan misterius itu lah kesan yang Kak Dimas berikan, sepertinya ... Kak Dimas ini tak terlalu populer.
Mataku diam-diam mencuri pandang pada sosok Kak Dimas di depanku saat suasana sedang ricuh dan berisik, memandangi Kak Dimas itu layaknya makan eskrim di tengah teriknya matahari. Segar.
Kak Dimas menoleh ke arahku. Membuatku buru-buru membuang muka yang sudah memerah padam ini.
Sial, tampannya...
Aku merunduk lagi, mencoba menyelesaikan tugas matematika yang amat sulitnya. Sambil sesekali melirik kecil ke arah Kak Dimas di depanku.
Apa ini rasanya kasmaran? Ah ya, sejak masuk SMP aku jadi rajin membaca novel fiksi remaja, sering mendengar lagu cinta yang manis, dan sampai akhirnya... aku tahu yang namanya 'jatuh cinta'.
Jadi, apa ini jatuh cinta?

Komentar
Posting Komentar